Tampilkan postingan dengan label Review. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Review. Tampilkan semua postingan

Rabu, 09 Februari 2011

"Goresan Cinta Sang Kupu Kupu"

Sebuah buku indah
yang mampu memberi spirit dalam berkarya
dan memaknai hidup yang penuh warna,
tanpa mengenal arti keterbatasan
(Helvi Tiana Rosa- sastrawan, dosen Fakultas Bahasa dan Seni UNJ).
 
Curahan hati, kisah para odapus(orang dengan lupus) yg penuh suka cita dlm menjalani hidup berdampingan dengan lupus. Penuh makna, emosional, spiritual, cinta, keteguhan hati, mengharukan tapi sekaligus membuat tersenyum. Membuat kita merenungkan kembali makna hidup, bahwa tidak ada alasan untuk tidak mensukuri nikmat hidup ini.

Penulis:
Fifi Carmelia Lutfiaty
Annisa Budiastuti
Cempaka Ariyanti
Hastuti Martiana
Kavellania
Inni Indarpuri
Agustini Suciningtias
Istin Anisa
Umy Zunar
Zaky Zakaria
Maria Stefianie Titik
Augie's Short Review:
Dari awal melihat buku ini, saya sudah tertarik, karena buku yang mengisahkan tentang penyakit lupus masih jarang. Selain itu, belum lama ini saya sendiri memang agak tertarik dengan penyakit ini, setelah menonton sebuah Film berjudul "Taiyou no Uta" -Bhs.Jepang: Nyanyian Matahari- beberapa waktu yang lalu. Yang tentunya mengisahkan tentang seorang penderita lupus -keren, saya ampe nangis nontonnya-.
Baiklah, to the point aja, biasanya buku yang ditulis "keroyokan" jadi kurang menarik dan enak dibaca, karena perbedaan gaya penulisan para penulisnya. Tapi ternyata hal ini tidak berlaku untuk buku ini, karena justru warna-warni para penulis membuat buku ini lebih hidup.Pembaca dapat memahami tentang odapus dari berbagai sudut pandang, mulai dari odapus itu sendiri, maupun orang-orang yang berada di sekitar mereka(dari keluarga sampai para relawan). 

Lupus merupakan penyakit yang jarang ditemui, namun sangat berbahaya. dengan membaca buku ini, kita dapat lebih memahami keberadaan penyakit ini, dan orang-orang yang berjuang melawannya. selain itu, ada tips-tips dan daftar dokter yang akan sangat berguna, jikalau ada orang di sekitar kita yang mengidap lupus. 

Overall, buku ini masuk ke kategori "must read and must buy" buat saya. Karena, selain buku ini memang menarik, seluruh keuntungan dari penjualan buku ini disumbangkan untuk membantu pengobatan para Odapus (orang dengan lupus).


Selamat membaca! :D

Augie Reyandha Giuliano
Ketua Umum KRIMA - Margahayu Raya, Bandung
Ketua Umum DKM Jundullah - Politeknik Komputer Niaga LPKIA
kaki.lan9it@gmail.com

Kamis, 16 September 2010

Rihlah dan Review: Ciwangun Indah Camp

Oke!!
Saatnya Rihlah telah tiba!!
Kali ini KRIMA bakal Rihlah ke Ciwangun Indah Camp!!
Ciwangun Indah Camp(CIC) adalah sebuah tempat wisata yang memiliki berbagai fasilitas yang menarik!!
Terletak di Parongpong, Lembang, Bandung barat, Tempat wisata yang berdiri sejak tahun 2007 ini memiliki berbagai daya tarik.

CIC berada 1000 m diatas permukaan laut dengan kisaran suhu udara dari 17˚ C hingga 25˚ C.
Diarea CIC juga masih banyak hewan liar, mulai dari beberapa jenis burung  sampai dengan banyaknya monyet liar area ini.

Luas area CIC adalah 22 Ha, terdiri dari:
  • aliran sungai Situ Lembang - Cimahi
  • air terjun-air terjun
  • goa 
  • kebun teh
  • hutan
  • lembah/Tebing 
  • danau buatan
  • kebun strawberry
  • dll
Selain itu, terdapat banyak wahana Out Bound yang menarik, saung-saung untuk istirahat,  dan berbagai fasilitas lainnya!


REVIEW:
Tempat wisata ini cukup universal, maksudnya bisa dikunjungi oleh siapa saja. Kenapa? Karena berkat campur tangan manusia(dalam hal positif) tempat ini menjadi lebih indah dan nyaman. Berbeda dengan gunung Puntang atau Ranca Upas yang memang pas untuk Pencinta alam atau Pramuka, CIC memiliki jalur Tracking yang sudah dipermudah dan aman untuk orang yang tidak terbiasa dengan Hiking. 
Namun, uniknya, CIC tetap mempertahankan konsep alami yang masih kental, berbeda dengan Taman Safari, atau beberapa area Out Bound sejenis yang memang benar-benar dirombak, sehingga pengunjung kurang merasakan keberadaaannya di alam, Pad CIC, pengunjung masih tetap disuguhi oleh lembah-lembah yang terjal, namun sudah diamankan dengan berbagai rancangan kayu yang tetap terlihat alami.

Tapi CIC tetap menyediakan area Camping dan berbagai permainan yang cukup memacu adrenalin yang akan membuat para pencinta alam dan pecinta tantangan tergiur. mulai dari 3 buah flying fox dengan pilihan ketinggian dan jarak, jembatan-jembatan yang akan menguji nyali anda, wall dan rock climbing dan rapelling, dan permainan lain yang sangat menarik!
Dan dengan jumlah fasilitas yang sangat banyak dan lengkap, bahkan sampai disediakannya air soft gun, paint ball, rafting, atv, motorcross, dll, anda mempunyai banyak pilihan yang akan membuat anda kembali ingin kembali lagi kesana.
Intinya, CIC mampu menjadi tempat wisata yang mumpuni baik bagi Pecinta Alam, Keluarga, maupun tempat liburan Anak Muda  yang memiliki nilai manfaat yang jelas lebih tinggi dibanding tempat bermain lainnya.

Rating: 8.5/10


PENGUMUMAN:
Untuk seluruh Anggota KRIMA, kita akan dapat menikmati tempat wisata ini Sabtu, 18 September nanti.
Hanya dengan biaya Rp. 25.000,00 saja!!
Kita bakal jalan-jalan dan nikmatin keindahan alam, selain itu juga bakal ada acara yang rame disana.  
Barang bawaaaan:
  • Al-Quran
  • Alat Shalat
  • Makanan Berat
  • Minuman
  • Buku Catatan
Surat Izin Isya Allah akan dibagikan besok pagi atau dapat diambil pada saat kumpul KRIMA besok malam.

Selasa, 14 September 2010

Review: Darah Garuda / Blood of Eagle / Merah Putih II

Ohayou, Met Pagi, Good Morning!!
Hari ini KRIMA pergi ke BSM XII buat nonton film Darah Garuda Alias Merah Putih II. Setelah terpana dengan action yang cukup memukau dan dialog pemerannya yang sangat resmi seperti baca script, saya memutuskan untuk membuat reviewnya.
Yosh! Selamat Menikmati!!




DARAH GARUDA
Ketika pertama kali dirilis pada Agustus 2009, Merah Putih, yang merupakan bagian pertama dari  Trilogi Merdeka, trilogi fiksi kisah perjuangan rakyat Indonesia dalam usahanya merebut kemerdekaan dari tangan penjajah, mendapatkan sambutan yang beragam dari para penonton Indonesia.
Menyusul Merah Putih, bagian kedua kisah trilogi tersebut, Darah Garuda, kemudian dirilis pada September 2010. Duo Connor Allyn dan Rob Allyn masih bertanggungjawab atas penulisan naskah film ini. Yadi Sugandi juga masih duduk di kursi sutradara, namun kali ini, ia juga turut dibantu oleh Connor Allyn dalam melaksanakan tugasnya. Dan perubahan yang terasa adalah, berhasilnya Darah Garuda memberikan peningkatan dalam eksekusi dan penambahan adegan action yang kali ini benar-benar menjadi nyawa film ini. Meskipun masih terasa kekakuan pada dialog-dialog yang digunakan para karakter-karakternya -yang terlalu resmi-.
Berlatar belakang di Pulau Jawa pada tahun 1947, Darah Garuda masih melanjutkan kisah perjalanan empat tentara yang memiliki latar belakang kebudayaan berbeda, Amir (Lukman Sardi), Marius (Darius Sinathrya), Tomas (Donny Alamsyah) dan Dayan (Teuku Rifku Wikana), yang masih terus melanjutkan perjuangan mereka dalam melawan penjajahan Belanda terhadap tanah Republik Indonesia. Kali ini, perjalanan mereka berhasil mencapai wilayah Jawa Barat, dimana mereka bertemu sekelompok pejuang yang merupakan bagian dari laskar perjuangan Jenderal Sudirman, dan dipimpin oleh Sersan Yanto (Ario Bayu).
Rasa fanatisme yang sedikit berlebihan terhadap suku dan agama sempat membuat Amir dan teman-temannya sedikit sulit membaur dengan rekan-rekan baru pejuang mereka. Namun, setelah beberapa saat, mereka akhirnya mampu menyatu dan langsung menjalankan rencana mereka dalam menyerang salah satu lapangan udara Belanda yang juga menjadi pusat pertahanan kaum penjajah tersebut. Tentu saja, langkah untuk menjalankan rencana yang telah disusun tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Berbagai rintangan hadir, termasuk adanya kecurigaan masuknya seorang mata-mata diantara laskar pejuang tersebut.
Setelah menyaksikan Darah Garuda secara keseluruhan, sulit rasanya untuk tidak membandingkan film ini dengan The Twilight Saga: Eclipse yang dirilis beberapa waktu yang lalu. Bukan, bukan berarti bahwa Darah Garuda berisi banyak dialog-dialog percintaan yang terdengar konyol bagi para penontonnya — walau harus diakui pada beberapa titik Darah Garuda juga memiliki momen tersebut. Perbandingan tersebut muncul dari cara penyampaian jalan cerita Darah Garuda yang menyerupai The Twilight Saga: Eclipse yang justru menyimpan momen-momen terbaiknya di penghujung film dan membiarkan penontonnya untuk melewati banyak momen-momen yang bertendensi membosankan sebelum mencapai masa keemasan tersebut.
Tentu saja, diantara perjalanan tersebut Yadi Sugandi dan Connor Allyn menyelipkan beberapa momen action, yang dihadirkan dalam skala kecil dan hampir tidak dapat disebut sebagai sebuah hal yang memuaskan. Sebaliknya, jika dibandingkan dengan Merah Putih, film ini berusaha untuk memberikan sebuah kisah yang lebih down to Earth, yang dilakukan dengan banyak memasukkan unsur drama, romansa dan beberapa kali dialog bernuansa komedi ke dalam jalan ceritanya. Berhasilkah? Seharusnya berhasil. Namun ketika hal-hal tersebut dieksekusi dengan dialog super ‘resmi’, yang hadir justru banyak momen-momen ackward yang tercipta di antara jajaran pemerannya. Meskipun pada beberapa momen tetap dapat membuat penonton terhibur, chemistry karakter-karakternya kurang terasa dan lebih tampak sebagai 'sesama tentara' dibandingkan 'teman seperjuangan'.
Namun, seperti yang saya sebutkan diatas, pada bagian-bagian akhir film, Darah Garuda berhasil membawa emosi penonton hanyut dalam ketegangan dan aksi, dan disanalah para karakter benar-benar menjadi 'teman seperjuangan', yang mengingatkan pada film The A Team. Terutama pada bagian akhir dimana Marius terlihat seperti Captain Murdock dan Tomas adalah B. A. Baracus. Salah satu bagian terbaik adalah saat Teuku Rifku Wikana menunjukkan aktingnya yang memukau sebagai Dayan. Sampai-sampai para penonton bertepuk tangan di bioskop.

Karakter pendukung baru juga cukup mewarnai Darah Garuda. Kehadiran bintang muda, Aldy Zulfikar sebagai Budi yang merupakan prajurit termuda dalam kelompok mereka -kalau tidak bisa dibilang anak kecil-, cukup menarik dan berkesan. Dan yang paling berkesan mungkin kehadiran Ario Bayu. Walaupun sebenarnya terlihat kurang meyakinkan untuk terlihat sebagai seorang pejuang, Ario Bayu mampu membawakan karakternya dengan baik. Twist yang dilakukan terhadap karakternya juga cukup membuat karakternya terlihat lebih menarik dibandingkan dengan karakter-karakter utama -meskipun diakhiri dengan kematian yang konyol-.
Kesimpulannya, Darah Garuda dengan teriakan “merdeka!” yang lebih lantang mampu menghadirkan perjuangan yang lebih bernyawa, dengan iringan alunan musik indah dari Thorsie Argeswara. Dan secara keseluruhan, Darah Garuda merupakan sebuah tontonan yang amat sangat jauh lebih baik dari film-film lokal 'asal jadi' yang sering ada di bioskop kita. Namun perjuangannya untuk memompa semangat patriotisme masih perlu dibuktikan lagi, karena pertempuran masih belum usai dan Trilogi Merdeka masih memiliki kesempatan untut berjuang lagi pada film  Hati Merdeka yang dijadwalkan rilis bulan Desember. Merdeka! 


Senin, 13 September 2010

Review: Sang Pencerah

Ok!
Setelah pembahasan mengenai Ipod yang kecuci oleh Dayat dan Logo KRIMA oleh Firman, sekarang saatnya Review Film yang dipersembahkan oleh Ketua KRIMA!!
Untuk Review film pertama, saya memasukkan film baru yang berjudul "Sang Pencerah".
Yosh, selamat menikmati!!

SANG PENCERAH
Berbeda dengan banyak rumah produksi di Hollywood, yang sepertinya selalu dapat mengandalkan karya yang berisi kisah biopik untuk dapat meraup banyak penghargaan dari berbagai ajang festival, sineas Indonesia sepertinya masih merasa bahwa biopik adalah sebuah genre film yang selain susah untuk direalisasikan, juga salah satu genre yang sulit untuk dipasarkan. Tercatat semenjak era kebangkitan kembali film Indonesia di awal tahun 2000, hanya ada dua film yang berasal dari genre ini, Marsinah (Cry Justice) (2001) karya aktor sekaligus sutradara Slamet Rahardjo serta Gie (2005) yang disutradarai oleh Riri Riza.
Setelah merilis Menebus Impian di awal tahun, yang banyak diperbincangkan karena mengangkat tema Multi Level Marketing, sutradara pemenang dua Piala Citra untuk kategori Sutradara Terbaik, Hanung Bramantyo, kini merilis Sang Pencerah, sebuah film biopik mengenai pendiri organisasi Muhammadiyah, Ahmad Dahlan, yang semenjak lama memang telah menjadi proyek impian bagi Hanung. Untuk Sang Pencerah sendiri, selain berperan sebagai sutradara, Hanung juga menulis keseluruhan naskah cerita yang ia tuangkan melalui film yang berdurasi hampir sepanjang 120 menit ini.
Sang Pencerah sendiri memulai perjalanan kisahnya dengan menilik kelahiran seorang bayi laki-laki bernama Muhammad Darwis di dalam sebuah keluarga Jawa yang memiliki latar belakang lingkungan beragama Islam yang sangat kuat. Dalam pertumbuhannya, Darwis remaja (Ihsan Tarore) sering merasa aneh dengan kebiasaan lingkungannya yang seringkali mencampuradukkan kegiatan agama dengan berbagai kegiatan yang berbau mistis. Hal inilah yang kemudian menarik perhatian Darwis untuk mempelajari Islam lebih lanjut. Di usianya yang ke-15, Darwis, dengan seizin orangtuanya, pergi ke Mekkah untuk menunaikan ibadah haji, sekaligus mempelajari Islam langsung di tempat kelahiran agama tersebut.
Lima tahun berselang, Darwis dewasa (Lukman Sardi) kembali ke kampung halamannya di Yogyakarta. Sesuai dengan kebiasaan mereka yang baru kembali dari Mekkah saat itu, Darwis merubah namanya menjadi Ahmad Dahlan. Kondisi lingkungannya sendiri, yang saat itu berada di bawah bayang-bayang penjajahan Belanda, masih sama dengan ketika ia meninggalkan Yogyakarta. Banyak ajaran Islam yang dalam pelaksanaannya semakin melenceng dari apa yang telah disuratkan dalam Al-Qur’an maupun Al-Hadits. Tak tinggal diam, Ahmad Dahlan mulai secara perlahan menyadarkan masyarakat sekitar mengenai kesalahan yang telah mereka lakukan.
Tentu saja, merubah sesuatu hal yang telah menjadi semacam adat di dalam sebuah kelompok bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan. Ahmad Dahlan sendiri sempat mendapatkan kecaman dari seorang kyai penjaga tradisi, Kyai Penghulu Kamaludiningrat (Slamet Rahardjo), bahkan sering dituding sebagai seorang kyai yang sesat. Namun atas dukungan penuh istrinya, Siti Walidah (Zaskia Adya Mecca), keluarga, dan beberapa orang murid setianya, Ahmad Dahlan terus berusaha menegakkan akidah, termasuk dengan bekerjasama dengan organisasi modern yang banyak dinilai merupakan kelompok kafir oleh lingkungannya.
Sang Pencerah, yang direncanakan sebagai sebuah kisah awal dari dwilogi mengenai kehidupan Ahmad Dahlan, benar-benar menjadi pembuktian Hanung terhadap segelintir orang yang masih menyangsikan kemampuan sebagai seorang sutradara. Tidak hanya sebagai pembuktian, di dalam 120 menit masa durasi tayangnya, sangat terasa bahwa film ini benar-benar diperlakukan secara istimewa dengan tingkat ketelitian dan kerapian produksi yang sangat tinggi. Hasilnya, sangatlah mudah untuk menyatakan bahwa Sang Pencerah merupakan karya sineas Indonesia terbaik yang pernah dirilis di layar lebar sepanjang tahun ini.
Lihat bagaimana Hanung menceritakan kisah kehidupan Ahmad Dahlan. Ia menyajikannya dengan cara yang ringan, walaupun berisi banyak pesan-pesan yang sebenarnya jika diamati lebih dekat, berisi banyak tema yang akan dianggap berat oleh para penontonnya. Cara ini terbukti efektif ketika Sang Pencerah hadir lancar mengalirkan kisahnya ke hadapan para penonton dan membuat mereka seperti sedang mendengarkan dengan seksama sebuah cerita yang diceritakan secara apik. Tidak hanya melulu soal biopik kehidupan Ahmad Dahlan, Sang Pencerah juga berhasil memadukan kisah drama romantis sekaligus komedi di dalam penceritaannya yang membuat jalan cerita film ini semakin mudah untuk diresapi.
Pemilihan jajaran pemeran yang tepat juga menjadi keunggulan yang sangat strategis untuk film ini. Melihat apa yang ditampilkan Lukman Sardi sebagai Ahmad Dahlan mungkin membuat banyak orang kesulitan untuk membayangkan tokoh besar ini diperankan oleh aktor muda lainnya. Sebagai Dahlan, Lukman bermain sangat alami. Kharismanya sebagai seorang aktor muda berbakat terlihat menyatu erat dengan karakter yang ia mainkan. Tidak mengherankan bila nama Lukman Sardi akan banyak disebut-sebut dalam berbagai ajang penghargaan film Indonesia dalam beberapa waktu mendatang.
Selain Lukman, jajaran pemeran lainnya tidak kalah dalam memberikan kontribusi mereka dalam menghidupkan nyawa Sang Pencerah. Sekali lagi, setelah Perempuan Berkalung Sorban, Hanung berhasil mendapatkan nama-nama bertalenta kelas tinggi untuk mengisi filmnya. Lihat bagaimana Hanung berhasil mengarahkan banyak bintang muda seperti Ihsan Tarore, Joshua Suherman, Giring, Dennis Adhiswara, Ricky Perdana dan Zaskia Adya Mecca untuk bermain dan menyatu erat dengan kemampuan akting para seniornya seperti Yati Surachman, Ikranegara, Slamet Rahardjo, Agus Kuncoro hingga Sudjiwo Tewo. Benar-benar barisan pemeran impian yang terbukti sangat dapat diandalkan!
Kuat dari unsur filmis, Sang Pencerah juga tidak kedodoran dari sisi teknis. Film ini benar-benar diperlakukan sangat istimewa dari sisi sinematografi maupun pencapaian editingnya. Hasilnya, gambar-gambar yang disajikan di sepanjang film terlihat nyata dan sangat indah. Ini semakin diperkuat dengan tata musik yang dihasilkan oleh Tya Subiakto. Pada beberapa titik, tata musik yang diberikan oleh Tia bahkan berhasil mengisi atau menambah tingakat emosional dari cerita film yang dihadirkan. Juga merupakan salah satu tata musik terbaik dari film Indonesia yang dirilis di sepanjang tahun ini.
BISMILLAHIRAHMANIRRAHIIM...Mulai Menjalankan program baruuu